Mandiri Jogja Marathon 2017

Jogja akhirnya punya lomba lari keren juga. Setelah bertahun-tahun saya dan teman-teman berburu lomba lari ke luar kota seperti Bali, Jakarta dan Surabaya, tahun 2017 ini menjadi tahun yang manis buat pelari di Jogja dan sekitarnya. Pada medio 2016 saya dikontak oleh Mas Reza, founder IR dan juga founder Mesarace perihal Jogja Marathon ini. Beliau sempat bertanya apakah di akhir tahun 2016 ada lomba lari besar di Jogja dan sekitarnya. Setelah percakapan terakhir, saya tidak mendapat update apa-apa lagi sampai awal tahun 2017 Mas Reza kembali mengontak dan mengabarkan bahwa Jogja Marathon akhirnya jadi digelar di bulan April 2017. Saya sontak gembira dan mengabarkan hal tersebut kepada teman-teman di Playon Jogja. Bak pucuk di cinta ulam pun tiba. Teman-teman di Jogja sudah lama menanti adanya lomba lari marathon di kota ini. Belum pernah Jogja dilirik untuk jadi tempat penyelenggaraan lomba lari benar-benar lomba lari, buka sekedar lari gembira atau fun run.

Dan minggu lalu, 23 April 2017, Saya dan suami berangkat ke Prambanan, tempat berlangsungnya Jogja Marathon. Berhubung kami ikut kategori 10 kilo yang startnya jam 6 pagi, kami pun berangkat dari rumah sekitar jam 5. Sesampai di Prambanan dan memarkir motor, kami lumayan tergopoh-gopoh mencari pintu masuk dan menuju garis start di sisi barat Prambanan. Selain jaraknya lumayan jauh dari kantung parkir, minimnya petunjuk arah membuat kami makin kebingungan mau menuju ke arah mana. Setengah berlari kami mencari-cari garis start dan kurang 10 menit dari jam 6 kami akhirnya bisa menemukan keramaian di garis start. Lumayan lah ya buat pemanasan:))

Tepat jam 6 pagi, bendera start diangkat oleh salah satu pejabat kementerian BUMN. Jalur start ini lumayan sempit. Mungkin lebarnya hanya sekitar 3 meteran saja. Peserta kategori 10 kilo juga lumayan banyak sehingga cukup berjejal saat mulai berlari. Belum sampai 500 meter, sudah ada beberapa penduduk yang naik motor melawan arus. Sayang sekali sih karena baru mulai jalurnya kurang steril. Tapi berhubung wong Jogja ini sopan-sopan, naik motornya juga pelan-pelan dan mlipir. Sempitnya jalur dan banyaknya jumlah peserta mungkin akan menyulitkan bagi mereka yang ingin membuat catatan waktu terbaik (personal best) di Jogja Marathon ini. Kecuali kalo bisa start di depan bareng atlet elit.

Jalur yang dilewati di Jogja Marathon ini rata-rata lebarnya sekitar tiga meteran. Pada jalur 10 kilo, pada kilometer awal kita melewati jalan bagian belakang candi Prambanan. Di sisi timur nampak matahari pagi mulai naik. Sayang warnanya kurang dramatis waktu itu..hehehe. Peserta kemudian masuk ke dalam kampung perumahan penduduk. Penduduk sangat ramah namun sayang sekali mereka belum terlalu antusias. Amatan saya semua nampak seperti “business as usual” bagi penduduk. Mereka belanja sayur, duduk-duduk di depan rumah sambil melihat kami lari. Tidak banyak yang menyemangati seperti penduduk di jalur Bali Marathon. Setelah melewati kampung penduduk, memasuki kilometer ke 4, peserta melewati hamparan sawah. Di sisi utara tampak gunung Merapi gagah berdiri namun sayangnya pada saat itu agak tertutup awan. Di sisi selatan terlihat pegunungan seribu. Oh iya di kilometer 4 ini juga merupakan jalur yang dilewati oleh pelari jarak 42 kilo atau full marathon. Kalau tidak salah di titik tersebut mereka sudah memasuki kilometer yang ke 37. Oleh karena itu disediakan lorong dengan semprotan yang dapat dilewati oleh pelari. Ini sangat berguna bagi pelari full marathon yang biasanya kilo-kilo terakhir sudah mulai sempoyongan karena kepanasan.

Hidrasi di race ini juga patut diacungi jempol. Sesuai janjinya, titik hidrasi tidak pernah lebih dari 2-3 kilo. Petunjuk titik hidrasi juga sangat jelas sehingga peserta bisa bersiap-siap sebelum memasuki titik hidrasi. Komposisi hidrasi pun tidak melulu air isotonik. Air putih dan isotonik sama banyaknya. Tempat sampah plastik banyak tersedia di sekitar titik hidrasi sehingga memudahkan peserta untuk membuang gelas pada tempatnya. Sepanjang amatan saya, kebersihan di sekitar titik hidrasi cukup terjaga.

Kembali ke jalur lari. Setelah melewati hamparan sawah, peserta kategori 10 kilo dilewatkan ke Candi Plaosan. Pemandangan di sini juga tidak kalah indah. Para peserta banyak yang berhenti dan mengambil poto di sini. Termasuk saya dan suami juga dong. Sayangnya di titik ini tidak banyak fotografer yang siaga. Untung saja para peserta sudah banyak yang sigap berfoto dengan kamera hp masing-masing. Setelah melewati candi Plaosan kami kembali melewati perkampungan penduduk. Beberapa kali melewati pertigaan dan perempatan, saya bertemu dengan pengendara yang distop oleh para petugas untuk memberi jalan bagi pelari. Walau tumpukan pengendara sudah banyak, mereka tampak sabar lho. Jarang sekali saya mendengar bunyi klakson. Semua nampaknya legowo memberi jalan kepada pelari.

Di kilo-kilo terakhir, kami mulai memasuki jalan utama di sekitar Prambanan. Di jalur tersebut, jalanan dibagi dua dengan pemisah cone yang cukup banyak. Marshal yang bertugas jumlahnya cukup banyak dan mereka antusias sekali memberikan semangat untuk peserta. Setelah melewati kilometer ke 8 di jalan raya, peserta masuk ke komplek Prambanan. Dua kilometer terakhir peserta melewatinya di dalam area Prambanan. Sempat bertemu dengan rombongan pelancong yang akan berwisata. Jumlahnya cukup banyak namun belum terlalu mengganggu peserta. Finish line menurut saya kecil. Padahal biasanya saat masuk finish para pelari justru mempercepat larinya. Sayang juga sih. Mungkin tahun depan bisa diatur agar finish linenya diperbesar.

Selepas finish, peserta diberi medali dan e-money mandiri sebesar 25.000. Medali untuk finisher bagus sekali. Tebal, grafir dan gambar depan belakang. Desainnya juga sangat istimewa. Peserta sungguh dimanjakan dengan medali ini. So far ini adalah medali lari yang pernah saya dapatkan. Para peserta sudah ditunggu oleh puluhan tenant di race village serta hiburan oleh Maliq and D’essential yang tampil pukul 10 pagi. Saya dan suami langsung membelanjakan e-moneynya. Ada banyak penjual kopi enak dari Jogja dan juga Jakarta. Kami mendatangi stall Studio Kopi dan membeli dua gelas kopi gula semut. Selain itu saya juga berburu gudeg Yu Djum untuk mengobati rasa lapar. Selain Yu Djum masih banyak penjual makanan enak lainnya seperti Ayam Goreng Bu Tini, Siomay, KFC, Hoka-Hoka Bento, dawet dan masih banyak lagi lainnya. Di race village, selain tenda juga disediakan kursi dan meja untuk makan sehingga para peserta bisa bersantap dengan nyaman.

Kabarnya tahun depan Jogja Marathon akan digelar kembali pada 15 April 2018. Saya pun sudah melakukan pre-registrasi untuk event tahun depan karena menurut saya race ini sangat layak untuk diikuti dan istimewa seperti kota Jogja:)

2 thoughts on “Mandiri Jogja Marathon 2017

  1. rute FM banyak melewati jalan yang rusak dan jalan corblok/paving block. di km km awal ngga begitu terasa karena exited. di km tengah2 telapak kaki baru terasa penyot penyot. apalagi sampai finish harus di panggang matahari pukul 9

Leave a Reply to Thea Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>