Menjajal Trail Di Coast to Coast Night Trail 2019

Di dalam dunia lari umumnya ada dua kategori yaitu road dan trail. Lari road itu ya lari di jalanan, jalan raya, seperti yang rutin saya lakukan setidaknya seminggu tiga kali. Nah kalau lari trail rutenya ya selain jalan raya. Bisa hutan, gunung dan juga pantai. Dari kedua jenis lari itu yang menjadi favorit saya tentu saja lari road. Alasannya karena lari di jalan itu fleksibel dilakukan, bisa start finish di rumah dan gak memerlukan waktu yang lama. Sedangkan lari trail perlu cari rute khusus, kalau gak ke gunung, ya ke hutan atau pantai sehingga buat saya yang sudah berkeluarga dan punya anak dua ini lari trail kurang fleksibel. Otomatis durasi ke luar rumahnya juga lebih lama. Shortly, trail running isn’t my cup of tea, at least now.

Nah waktu seorang teman panitia Coast to Coast menawari saya dan suami untuk ikut lomba lari trail, saya sempat ragu-ragu mengingat saya sudah lama tidak lari trail. Atas desakan sang teman yang meyakinkan saya akan baik-baik saja akhirnya saya terimalah tawaran tersebut. Lalu tibalah saat hari H tanggal 17 Februari 2019. Jika peserta lain hadir di medan laga dengan penuh persiapan dan bekal latihan cukup, berbeda halnya dengan kami berdua. Datang mepet dengan waktu flag off jam 5 pagi, kami hanya membawa satu soft flask 500 ml, tanpa headlamp atau bekal lainnya. Angan-angannya di sepanjang rute akan ada warung yang menjual minuman sehingga kami nggak perlu repot-repot amat membawa banyak bekal.

Setelah lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan bendera start diangkat kami memulai petualangan lari trail. Start dimulai di Pantai Depok yang terkenal sebagai tempat pelelangan ikan di kawasan selatan Yogya. Waktu itu langit masih gelap. Gerombolan pelari 13K lari berdesakan-desakan. Tak jarang banyak yang tersandung “sampah-sampah” yang terdampar di sepanjang pantai. Saya termasuk salah satunya. Mengingat sulit menembus gerombolan pelari terdepan, saya dan suami memutuskan mengurangi kecepatan dan memilih mengurangi kecepatan dan risiko tersandung. Matahari mulai muncul di ufuk timur dan langit mulai terang. Di saat yang sama pelari mulai terurai, tidak penuh sesak seperti sebelumnya. Pemandangan di sepanjang pantai indah sehingga rasa berat akibat lari di pasir tidak terlalu terasa. Kami menyusuri pantai Depo, Parangkusumo hingga Parangtritis. Setibanya di pantai Parangtritis, kami menjumpai kerumunan wisatawan yang cukup berjubel. Saat saya melihat jam, ternyata masih jam 6 pagi dan begitu banyaknya wisatawan sudah berkumpul di sana.

credit: @pelarigalau

Setelah melewati Parangtritis, jalur menanjak dimulai. Diawali dengan melewati gumuk pasir hingga jalan raya yang elevasinya cukup tajam. Kaki sudah mulai terasa berat tapi kami berdua tetap berusaha lari walaupun pelan. Jika jalur benar-benar nanjak kami memutuskan untuk jalan saja. Setelah melewati beberapa tanjakan, kami sampai pada dataran tinggi sehingga garis pantai selatan benar-benar terlihat jelas. Inilah indahnya trail. Pemandangannya luar biasa. Apalagi setelah melewati tanjakan demi tanjakan. Di saat yang sama kami berdua sadar kalau persediaan air minum sudah menipis. Maklum, bekal 500 ml air itu kami bagi berdua. Diluar dugaan, water station belum juga nampak padahal jarak sudah lebih dari lima kilo. Warung pun ternyata belum ada yang buka sehingga pupus harapan kami untuk jajan di perjalanan lomba ini.

Setelah melewati tanjakan tidak henti-henti, akhirnya saya menemui rintangan yang lebih mengecilkan hati: turunan! Ya, turunan. Terus terang saya lebih suka nanjak dari pada turun karena saya takut sekali terpeleset. Apalagi sepatu yang saya pakai bukan sepatu khusus trail. Dan mengingat malam sebelumnya hujan turun, jalur turunan terasa lebih licin. Selain licin, jalur ini juga kecil. Saya sampai mempersilakan peserta di belakang saya untuk turun duluan karena khawatir saya memperlambat lari mereka. Kami akhirnya menemukan water station setelah berlari hampir 10 kilometer. Wah senang sekali rasanya. Kami langsung minum, mengisi ulang botol minum, dan makan buah-buahan seperti pisang dan semangka walau terdengar lengkingan memilukan hati dari peserta yang sedang dirawat karena cedera. Duh!

10 kilo terlewati kami semakin semangat karena jarak tinggal 3 kilometer. Apalagi sudah mengisi perut dan membasahi kerongkongan. Semakin semangat! Tapi semangat itu pupus karena ternyata jalur yang kami ternyata tidak kalah berat. Gumuk pasir! Melintasi gumuk pasir saat matahari mulai tinggi sungguh suatu tantangan. Rasanya gumuk itu tidak bertepi, tidak berujung. Pemandangan di kanan-kiri hampir serupa. Jarak di jam Garmin sudah menunjukkan 13 kilometer namun garis finis tidak kunjung terlihat. Pun pantai tidak terdengar deru ombaknya. Pasti masih jauh batin saya. Untung saja saya membawa topi dan mengenakan kacamata. Lumayan lah untuk menghalau panasnya matahari yang mulai menyengat dan menyilaukan.

Setelah berlari sekitar 2 jam 30 menit, saya akhirnya mendekati pantai. Dari jauh terlihat umbul-umbul garis finish. Ah, bahagianya! Mengingat kondisi fisik yang sudah mulai turun, alih-alih mempercepat lari, membuat kaki untuk terus berlari saja sudah luar biasa untuk saya. Hahaha maklum pelari trail amatiran. 500 meter terakhir adalah perjuangan. Untung masih tetap bisa senyum saat finish dan terekam manis di foto.

credit: coast to coast committee

Setelah finish, saya dan semua peserta disambut dengan kalungan medali serta komplimen yang cukup berbeda dari lomba lari pada umumnya. Keistimewaan lari di acara ini adalah sajian ikan bakar khas pantai Depok. Setelah capek lari, peserta disuguhi es dawer dan tentu saja paket nasi beserta ikan bakar. Sayang, punya saya ikannya terlalu keras. Tapi itu tidak mengurangi serunya lari di acara Coast to Coast Night Trail karena saya bertemu kembali dengan teman-teman lama di dunia lari.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>